Rindu Sepenuh Hati (Bag. 2)

"Kangen berat, ya, kayanya nih si Ratu sama Tuannya." Syarah mendongkak mendengar ucapan Nanda.

"Dih, bukannya kamu, ya, tadi yang bilang katanya kangen aku? Sampe boong digigit anjing lagi. Tadinya aku nggak mau dateng, tapi si mamah berisik banget takutnya kamu rabies. Padahal ya, kamu, kan sekuat baja, nggak akan rabies cuma karena digigit anjing." Bela Syarah masih dengan memeluk tubuh kurus Nanda.

"Tapi, buktinya kamu langsung dateng, kan. Sampai keringetan gitu lagi." Nanda tertawa.

Secara refleks Syarah melepas pelukannya. Nanda terheran.

"Kok, udahan?" Tanyanya.

"Kamunya nyebelin." Nanda lagi-lagi tertawa. Suka sekali ia tertawa ya kalau bersama Syarah.

Kini mereka berdua sudah menatap ke depan. Menatap danau dan hamparan langit yang seperti menyatu. Perlahan warna langit sudah berubah menjadi jingga. Bulan juga mulai menampakkan wujudnya.

"Kok aku nyebelin mulu, sih?"

"Ya, kan, kamu itu Tuan Ternyebelin Sejagadraya," jawab Syarah.

"Bukan Tuan Ternyebelin Sejagadraya, tapi Tuan Terganteng Sejagadraya." Nanda membela diri. Sementara Syarah yang mendengarnya melihat sinis.

"Dih, pede banget."

"Haha. Biarin, nyebelin itu ngangenin, tau!" Nanda mulai merangkul Syarah dalam pelukannya. Syarah nurut saja.

"Enggak, tuh. Kata siapa?"

"Kata aku barusan."

"Enggak usah jadi nyebelin kalo emang ngangenin. Wlek." Syarah menujurkan lidahnya. Nanda hanya tersenyum menatap.

"Halah. Bilang aja kamu kangen aku."

"Enggak juga. Kamu, tuh, yang kangen aku, kan?"

"Nggak usah boong."

"Emang beneran enggak, kok."

"Ikutin kata hati kamu."

"Kamu juga dong," ucap Syarah tertawa.

"Iya, nih. Aku kangen banget sama kamu. Ditinggal sekolah tiga tahun. Nggak bisa nelpon, nggak bisa bales pesan. Tersiksa tau nggak aku, tuh." ujar Nanda sambil mengelus rambut panjang Syarah.

"Nggak tau. Soalnya aku nggak kangen kamu, tuh."

"Tuh, kan. Ikutin kata hati kamu, Rah."

"Emang enggak kangen, kok."

"Syarah Delvira." Panggil Nanda lembut.

"Apa Rayhan Nanda." Syarah hanya tertawa menanggapi. Ia senang sekali jika sudah menggoda Nanda seperti ini.

"Ikutin kata hati kamu."

"Enggak mau."

Dan, terus saja mereka seperti itu sampai langit benar-benar gelap. Tertawa dan saling meledek. Cemberut dan saling memeluk. Seperti itu lah mereka menebus perasaan rindunya. Sedikit alay dan tidak jelas. Tapi, bukankah setiap orang memiliki caranya sendiri untuk melepas rindu?

Syarah berharap, Tuan Nyebelinnya masih akan selalu menemaninya hingga akhir. Tidak ada yang tahu, hari ini mungkin mereka saling menyayangi. Tapi, bagaiman untuk besok, lusa, minggu depan, tahun depan dan seterusnya? Tak ada yang tahu. Mereka hanya cukup berdoa dan berusaha supaya Alam dan Semesta merestuinya sampai akhir hayat.

Semoga takdir bersama mereka berdua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rabu bersama Senja

Fuki Yona