Postingan

Rindu Sepenuh Hati (Bag. 2)

"Kangen berat, ya, kayanya nih si Ratu sama Tuannya." Syarah mendongkak mendengar ucapan Nanda. "Dih, bukannya kamu, ya, tadi yang bilang katanya kangen aku? Sampe boong digigit anjing lagi. Tadinya aku nggak mau dateng, tapi si mamah berisik banget takutnya kamu rabies. Padahal ya, kamu, kan sekuat baja, nggak akan rabies cuma karena digigit anjing." Bela Syarah masih dengan memeluk tubuh kurus Nanda. "Tapi, buktinya kamu langsung dateng, kan. Sampai keringetan gitu lagi." Nanda tertawa. Secara refleks Syarah melepas pelukannya. Nanda terheran. "Kok, udahan?" Tanyanya. "Kamunya nyebelin." Nanda lagi-lagi tertawa. Suka sekali ia tertawa ya kalau bersama Syarah. Kini mereka berdua sudah menatap ke depan. Menatap danau dan hamparan langit yang seperti menyatu. Perlahan warna langit sudah berubah menjadi jingga. Bulan juga mulai menampakkan wujudnya. "Kok aku nyebelin mulu, sih?" "Ya, kan, kamu itu Tuan Ternyebelin S...

Rindu Sepenuh Hati (Bag. 1)

Dibawah langit yang terhampar luas dan diatas rumput yang mulai meninggi, ada seseorang yang tengah tertidur, lelap sekali. Angin sepoi-sepoi semakin membuatnya nyaman. Suara gemercik air dibawah sana dan suara burung yang berkicau, ia menyukainya. Bahkan, suara anjing yang menggonggong pun ia amat menyukainya. Semuanya beradu-padu menjadi sebuah musik yang alami. Dari semua hal tersebut, ada satu suara yang amat sangat ia sukai, bahkan ia rindukan. "Nan?" Nah, kan, ini suaranya. Suara yang amat ia rindukan. Suara cempreng yang memekakkan telinga, kini tepat disampingnya. Mata sang pemilik nama 'Nan' masih saja tertutup. Mulutnya terangkat sedikit saat mendengar namanya di panggil oleh Ratu Cempreng nya. "Nan, ih. Nanda, Bangun dong! Aku udah lari-lari kesini tau, nggak! Aku pikir kamu digigit anjing beneran, eh taunya boong." Kali ini, suaranya bukan cempreng, tapi merajuk. Nanda sendiri yakin, saat ini mulut Ratu Cempreng nya sudah maju lima senti, mat...

Embun Malam

Di samping rahasia malam, ada bulan yang melihatnya. Di samping embun pagi buta, ada kupu-kupu yang terbang mengelilingi. Di samping sendok yang berdiri, ada garpu yang setia menemani. Di samping matahari sore, ada semburat jingga yang menghiasi. Dan, di samping kamu yang selalu nyebelin, ada aku yang senantiasa menahan rindu. Apakah kamu tahu? Bagaimana rasanya, saat rindu tapi tak bisa berbuat apa-apa? ( Pwzdin. Cikampek, 21 07 2018)

Fuki Yona

Gambar
Fuki berjalan dibawah naungan hujan pagi ini. Dirinya tidak berlari, tidak juga berjalan. Hanya diam, berdiri, sendiri. Termangu menatap kedepan. Dimana, didepan sana, ada cahaya. Cahaya yang membuatnya masih bisa berjalan seperti sekarang. Cahaya yang membuatnya bersemangat kembali. Dia telah hilang. Cahayanya menghilang, bersama dengan hujan yang datang. Fuki tidak tahu, Cahaya mungkin telah pergi saat ini. Tapi Fuki tidak ingin Cahaya menghilang. "Yo--Yona..." Menyebutkan namanya saja Fuki penuh keraguan, apalagi menjemputnya, menariknya agar tidak hilang. Suaranya begitu lirih, berbanding terbalik dengan suara hujan yang turun dari langit, menembus dahan pohon dan akhirnya jatuh ke bumi. Didepan sana, Yona menoleh. Ia tersenyum, sangat tipis. Air matanya masih terlihat jelas dipelupuk matanya. Matanya yang bulat dengan warna cokelat, Fuki menyukainya. Tidak seperti ini, jika Fuki tidak memanggilnya, Yona akan menghilang, cahayanya akan menghilang. Fuki membenci akan h...

Rabu bersama Senja

Gambar
Untuk Rabu yang bersedih saat ini, tertawalah. Tawamu adalah penyemangat bagiku. Untuk Rabu yang sedang menangis saat ini, tersenyumlah, hapus air mata berhargamu. Kamu gadis kuat, gadis hebat. Air matamu terlalu dan terlalu bahkan terlalu begitu terlalu berharga untuk Dia yang tidak melirikmu sama sekali. " Untuk Rabu, dari Tuan yang mengagumimu. Tersenyum disaat aku melihatmu, itu adalah yang terbaik. Aku menyukainya. " "Untuk Rabu, dari Dia yang menyakitimu. Berhentilah menyukaiku. Aku tidak menyukaimu." "Untuk Tuan, dari Rabu yang mengagumimu juga dalam diam. Terima kasih atas perhatianmu. Aku menyukainya. Aku juga menyukainya saat kamu tersenyum ketika melihatku. Itu bahkan lebih manis dari apapun." "Untuk Dia, dari Rabu yang menyukaimu. Andai saja aku dapat berhenti menyukaimu, sudah pasti kulakukan saat ini juga, hari ini juga, jam ini juga, menit ini juga, bahkan detik ini juga. Tapi sayang, aku tidak dapat berhenti. Belum lagi s...

Sebuah cerpen;Senyuman di bulan Desember

Gambar
Haii, aku kembali. Kali ini aku ingin menshare sebuah cerpen. Terima kasih kepada Ellunar publisher yang sudah meloloskan naskah ini. Jujur, ya. Ini naskah pertamaku yang lolos. Jadi mohon maklum kalau alay gitu, hahaha. Pas baca lagi ini cerpen dalam bentuk buku, aku menyadari satu hal. Alay! Jujur, malu sendiri bacanya. Belum lagi para tetangga yang juga mengatakan cerpen ini alaylah, lebaylah. Hehe. Tapi nggak papa, ini adalah karyaku, asli. Tapi sekarang aku udah move on loh, hahaha. Sekarang my inspirasiku bukan dia lagi. Tapi orang baru yang kalau ngomong bikin bete dan nyebelin, hahaha. "Selamat menikmati bacaan kalian , semoga suka 😊" Bulan ini. Bulan akhir penghujung tahun 2016. Sekaligus bulan yang amat kutunggu. Tentu saja, aku sudah merencanakan banyak sekali poin-poin penting yang akan kulakukan di bulan Desember ini. Ah, aku sampai lupa. Bulan ini juga ada kegiatan kemah. Seperti tahun lalu dan selalu dibulan yang sama. Kemah tahun ini sedikit berbeda, tak s...

Untuk Dia yang paling nyebelin

Dari satu untuk seribu, kamu adalah yang pertama. Di dunia ini, jika kamu merasa sendiri, datanglah. Kamu tidak perlu takut. Aku ini baik, aku menyayangimu. Aku menyukaimu, kamunya saja yang membenciku. Aku benci pada setiap apapun yang bersangkutpautan dengan kamu. Kamu yang selalu melirik kearah dia. Aku membencinya tau! Jangan sakiti aku terus, atau aku akan buat kamu hidup abadi. Jika saja suatu hari aku menghilang, akankah kau mencariku? Aku akan bahagia jika mengetahui hal tersebut. Kau tahu? Saat matamu melirikku disaat siang hari, mencari celah agar dapat melihatku, aku menyukainya! Mungkin kau tidak tahu, akulah yang lebih sering mencari celah agar dapat melihatmu, melirikmu dari tempatku berada. Tapi, apakah kau tahu? Aku membencinya saat ada Dia yang menyebutkan namamu dalam ceritanya. Ceritanya yang berbohong. Ceritanya yang tidak benar. Aku membencinya! Jika saja Dia bercerita juju, aku tidak akan membencinya. Aku mohon, ketahuilah! Di hari Senin ini, kau tidak akan m...