Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

Rindu Sepenuh Hati (Bag. 2)

"Kangen berat, ya, kayanya nih si Ratu sama Tuannya." Syarah mendongkak mendengar ucapan Nanda. "Dih, bukannya kamu, ya, tadi yang bilang katanya kangen aku? Sampe boong digigit anjing lagi. Tadinya aku nggak mau dateng, tapi si mamah berisik banget takutnya kamu rabies. Padahal ya, kamu, kan sekuat baja, nggak akan rabies cuma karena digigit anjing." Bela Syarah masih dengan memeluk tubuh kurus Nanda. "Tapi, buktinya kamu langsung dateng, kan. Sampai keringetan gitu lagi." Nanda tertawa. Secara refleks Syarah melepas pelukannya. Nanda terheran. "Kok, udahan?" Tanyanya. "Kamunya nyebelin." Nanda lagi-lagi tertawa. Suka sekali ia tertawa ya kalau bersama Syarah. Kini mereka berdua sudah menatap ke depan. Menatap danau dan hamparan langit yang seperti menyatu. Perlahan warna langit sudah berubah menjadi jingga. Bulan juga mulai menampakkan wujudnya. "Kok aku nyebelin mulu, sih?" "Ya, kan, kamu itu Tuan Ternyebelin S...

Rindu Sepenuh Hati (Bag. 1)

Dibawah langit yang terhampar luas dan diatas rumput yang mulai meninggi, ada seseorang yang tengah tertidur, lelap sekali. Angin sepoi-sepoi semakin membuatnya nyaman. Suara gemercik air dibawah sana dan suara burung yang berkicau, ia menyukainya. Bahkan, suara anjing yang menggonggong pun ia amat menyukainya. Semuanya beradu-padu menjadi sebuah musik yang alami. Dari semua hal tersebut, ada satu suara yang amat sangat ia sukai, bahkan ia rindukan. "Nan?" Nah, kan, ini suaranya. Suara yang amat ia rindukan. Suara cempreng yang memekakkan telinga, kini tepat disampingnya. Mata sang pemilik nama 'Nan' masih saja tertutup. Mulutnya terangkat sedikit saat mendengar namanya di panggil oleh Ratu Cempreng nya. "Nan, ih. Nanda, Bangun dong! Aku udah lari-lari kesini tau, nggak! Aku pikir kamu digigit anjing beneran, eh taunya boong." Kali ini, suaranya bukan cempreng, tapi merajuk. Nanda sendiri yakin, saat ini mulut Ratu Cempreng nya sudah maju lima senti, mat...

Embun Malam

Di samping rahasia malam, ada bulan yang melihatnya. Di samping embun pagi buta, ada kupu-kupu yang terbang mengelilingi. Di samping sendok yang berdiri, ada garpu yang setia menemani. Di samping matahari sore, ada semburat jingga yang menghiasi. Dan, di samping kamu yang selalu nyebelin, ada aku yang senantiasa menahan rindu. Apakah kamu tahu? Bagaimana rasanya, saat rindu tapi tak bisa berbuat apa-apa? ( Pwzdin. Cikampek, 21 07 2018)