Fuki Yona

Fuki berjalan dibawah naungan hujan pagi ini. Dirinya tidak berlari, tidak juga berjalan. Hanya diam, berdiri, sendiri. Termangu menatap kedepan. Dimana, didepan sana, ada cahaya. Cahaya yang membuatnya masih bisa berjalan seperti sekarang. Cahaya yang membuatnya bersemangat kembali. Dia telah hilang. Cahayanya menghilang, bersama dengan hujan yang datang. Fuki tidak tahu, Cahaya mungkin telah pergi saat ini. Tapi Fuki tidak ingin Cahaya menghilang.

"Yo--Yona..." Menyebutkan namanya saja Fuki penuh keraguan, apalagi menjemputnya, menariknya agar tidak hilang.

Suaranya begitu lirih, berbanding terbalik dengan suara hujan yang turun dari langit, menembus dahan pohon dan akhirnya jatuh ke bumi.

Didepan sana, Yona menoleh. Ia tersenyum, sangat tipis. Air matanya masih terlihat jelas dipelupuk matanya. Matanya yang bulat dengan warna cokelat, Fuki menyukainya.

Tidak seperti ini, jika Fuki tidak memanggilnya, Yona akan menghilang, cahayanya akan menghilang. Fuki membenci akan hal itu.

Fuki memejamkan matanya sebentar, nafasnya ia buat seteratur mungkin. Debaran jantungnya yang tidak dapat berdetak dengan lembut, Fuki membencinya jika seperti ini.

"Yona!" Teriakannya begitu kencang, hampir mengalahkan hujan pagi ini. Sedikit lagi!

Sang pemilik nama tidak menoleh, masih tetap berdiri disana. Sama merenung akan hidupnya saat ini. Jika saja, dirinya tidak hadir, tidak terlahir kedunia ini, dirinya tidak akan mengalami hal menyakitkan seperti ini.

Bisakah ia menghilang saja? Melupakan hari buruknya didunia? Melupakan kisahnya yang begitu tidak karuan ini?

"Yona!" Lagi dan lagi, Fuki berteriak. Kini walaupun samar, Yona dapat mendengarnya. Tapi ia tak ingin menoleh. Menoleh kebelakang hanya akan menghambatnya. Matanya terpejam.

Fuki, yang menatap dari belakang tak bisa tinggal diam. Jika memanggilnya dengan berteriak tak dapat membuat Yona menoleh dan berhenti. Mengejarnya mungkin bisa. Masih ada waktu jika ia bisa berlari. Fuki mempercayainya.

Langkah kakinya yang panjang dan lebar mulai terayuh. Menerobos hujan yang semakin lebat pagi ini.

"Yona! Lihat gue!" Fuki berteriak semakin keras.

"Yona!" Langkah kakinya semakin ia percepat. Nafasnya terengah-engah. Hujan masih saja terus membasahi wajahnya. Membuat pandangannya samar. Jika seperti ini, Fuki membenci hujan.

Hujan yang membawa berkah, Fuki membencinya.

Didepan sana, Yona masih terus melangkah. Hingga suara sirine kereta mulai terdengar, jantung Fuki berdetak semakin kencang. Langkah kakinya semakin ia percepat juga.

Detakan jantungnya bukan detakan yang Fuki sukai. Fuki lebih menyukai detakan saat ia melihat senyuman Yona, yang manis tapi manja. Detakan saat Yona cemberut lucu. Detakan saat Yona memasang wajah seriusnya. Fuki menyukai tiga hal tersebut. Tapi Fuki membenci detakan saat ia harus melihat Yona berjalan menuju kereta yang terus melaju. Klakson kereta semakin dibunyikan dan semakin nyaring terdengar.

Setiap kapsul terlihat orang-orang yang penasaran. Saling mengintip menatap kedepan. Ah, sekarang, setiap kapsul mulai ribut. Terdengar teriakan memanggil Yona untuk segera pergi.

Fuki membenci melihat setiap kapsul yang seperti itu. Rasanya ia ingin menutup mata semua penumpang yang ada didalam kapsul agar tidak melihat Yona seperti itu.

Plang pembatas juga sudah terpasang. Memblok jalan Yona sementara. Hanya sementara, setelah itu Yona menunduk dan melewati plang pembatas dengan perlahan.

Ah, Fuki tak bisa berlari lagi. Fuki terlalu lelah. Tapi hatinya terlalu bersemangat untuk menyelamatkan gadis yang selama ini ia kagumkan.

"Yona! Lihat gue! Gue mohon berhenti! Gue tau lo ada masalah, lo bisa cerita ke gue. Lo gak harus ngelakuin hal ini. Gue... gue gak mau kehilangan lo!" Kalimat terakhir, Fuki teriak lebih kencang. Fuki berharap, Yona mendengarnya.

Tak lama, Yona berhenti dari langkahnya. Fuki dapat bernafas lega. Setidaknya ada sedikit peluang untuk menyusul Yona di depan sana.

Yona tahu, dirinya memang tidak seharusnya seperti ini. Ia terlalu lemah. Ia terlalu putus asa. Tujuan hidupnya sudah hilang. Pergi bersama hujan kemaren sore. Harusnya Yona tahu, Fuki tidak mungkin menyukainya. Ia baik kepada semua cewek. Ia selalu tersenyum manis pada semua cewek. Ia selalu meladeni setiap candaan semua cewek. Harusnya Yona tahu hal tersebut. Tapi barusan, Yona mendengarnya. Fuki tidak ingin kehilangannya.

Ah, jika dipikir ulang, mungkin saja Fuki merasa kasihan melihat seseorang yang ingin bunuh diri. Jadi, ia mengatakan hal tersebut, bisa saja, bukan?

Yona tidak ingin terlalu berharap. Selama ini Yona terlalu banyak menaruh harapan pada Fuki. Nyatanya, Fuki menghempaskan semua harapannya dengan mudah. 

"Ah, rasanya suara kereta tersebut berisik sekali, sih." Yona bergumam kecil, langkahnya kembali berjalan perlahan, lebih lambat.

"Yona!" Lagi-lagi suara Fuki. Yona benci saat mendengar suara Fuki yang memanggilnya seperti itu. Seperti suara yang takut kehilangan orang yang dicintainya saja.

"Fuki, maaf karena aku terlalu banyak menaruh harapan padamu. Aku tahu diri. Kamu disukai banyak orang, siapa yang tak menyukai dirimu? Pria dengan alis tebal dan kumis tipis. Semua menyukainya. Bahkan saat pertama kita bertemu, aku langsung menyukaimu. Sekali lagi, aku minta maaf, Fuki. Selamat tinggal." Lima langkah lagi, Yona pergi dan Fuki berhasil mencegahnya.

"Yona! Lihat gue!"

"Gue gak tau apa masalah lo. Lo boleh pendem itu sendirian, tapi lo gak boleh putus asa kayak gini. Masih ada gue. Gue siap dengerin semua cerita lo. Gue siap bantu lo. Lo harus bertahan!" Fuki memegang kedua pundak Yona, mengguncangkannya dengan keras. Terus berteriak menyuruh Yona menatapnya.

Satu tetes air matanya turun, "Mana bisa gue bertahan, sementara lo pergi sama yang lain! Lo selalu memperlakukan semua perempuan sama aja! Lo perhatian kesemua cewek! Lo membuat semua perempuan berharap! Semua hal yang lo lakuin ke gue, lo lakuin juga kesemua cewe! Mana bisa gue bertahan kalo kayak begitu? Udah gak ada harapan dalam hidup gue! Gue gak punya siapa-siapa! Gue mau mati aja! Lepasin gue!" Akhirnya, semua unek-unek yang Yona simpan, terucap dengan lantang di depan dirinya. Di depan orang yang membuat semuanya menjadi rumit.

Fuki harus bertahan, ia kewalahan mencegah Yona yang terus berontak.

"Lepasin gue!"

Berhasil! Yona lolos! Ia kembali melangkah, mundur. Menatap Fuki sambil terus berjalan mundur. Menatap wajah Fuki yang terakhir kalinya. Menatap wajah Fuki dengan mata memerah. Yona baru melihatnya, Fuki dengan mata merah. Fuki juga tidak mengejar. Hanya diam menatap. Ah, mungkin Fuki sedang memikirkan hal yang tadi Yona ucapkan. Mungkin saja.

Tiga langkah, tidak ada pergerakan dari Fuki.

Dua langkah, suara klakson kereta semakin terdengar bersama para manusia didalam kapsul.

Satu langkah. Fuki tak dapat menahannya. Ia berlari menarik Yona kedalam dekapannya. Dengan erat dan tak akan dilepaskannya.

"Aku mencintaimu." Dan mata Yona melotot sempurna mendengar kata yang selama ini hanya bisa ia bayangkan saja dalam benaknya.

Suara kereta melintas begitu nyaring bersama dengan teriakan para manusia didalam kapsul.

Ah, sepertinya cerita mereka telah selesai. Mereka telah selesai. Dibawah hujan deras dan penyaksian para manusia, mereka pergi. Darah yang mengalir bersama hujan deras. Tubuh yang terpecah bersama kapsul yang melintas. Mereka benar-benar sudah hilang. Fuki dan Yona, selamat tinggal untuk keduanya.

Kisah mereka benar-benar aneh, hanya karena Fuki yang bertingkah seperti itu, Yona ingin pergi. Lebay sekali kisah mereka ini. Tapi, bukankah setiap orang memiliki kisah mereka sendiri? Kisah yang mungkin saja tidak berarti bagi orang lain, tapi berarti bagi satu orang. Kisah yang dapat membuat semangatnya tumbuh. Kisah yang dapat membuat detakan jantungnya seperti berlari didalam sana, dapat merasa dirinya seperti hidup dalam kebahagiaan. Dan, kisah Yona dan Fuki berakhir seperti itu. Fuki dan Yona, selamat tinggal untuk keduanya. Kisahmu akan di ingat, khususnya untuk orang yang merasa seperti ini juga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rabu bersama Senja