Sebuah cerpen;Senyuman di bulan Desember

Haii, aku kembali. Kali ini aku ingin menshare sebuah cerpen. Terima kasih kepada Ellunar publisher yang sudah meloloskan naskah ini.

Jujur, ya. Ini naskah pertamaku yang lolos. Jadi mohon maklum kalau alay gitu, hahaha.

Pas baca lagi ini cerpen dalam bentuk buku, aku menyadari satu hal. Alay! Jujur, malu sendiri bacanya. Belum lagi para tetangga yang juga mengatakan cerpen ini alaylah, lebaylah. Hehe. Tapi nggak papa, ini adalah karyaku, asli.

Tapi sekarang aku udah move on loh, hahaha. Sekarang my inspirasiku bukan dia lagi. Tapi orang baru yang kalau ngomong bikin bete dan nyebelin, hahaha.

"Selamat menikmati bacaan kalian, semoga suka😊"

Bulan ini. Bulan akhir penghujung tahun 2016. Sekaligus bulan yang amat kutunggu. Tentu saja, aku sudah merencanakan banyak sekali poin-poin penting yang akan kulakukan di bulan Desember ini. Ah, aku sampai lupa. Bulan ini juga ada kegiatan kemah. Seperti tahun lalu dan selalu dibulan yang sama. Kemah tahun ini sedikit berbeda, tak seperti tahun-tahun lalu. Empat tahun kebelakang. Saat aku masih bersamanya. Pria dengan kempot dikedua pipinya. Manis. Bahkan aku tak bisa memalingkan wajahku saat ia tersenyum..

"Tessa!" suara seseorang membuyarkan lamunanku.

Kutolehkan wajahku menghadap asal suara, "Apa?"

"Kau tak lupa bersiap-siap bukan? Setengah jam lagi waktumu. Setelah itu bawa barangmu kedepan. Jangan terlambat!" mulutku terbuka lebar. Setengah jam lagi? Begitu cepat waktu berjalan. Bahkan, baru saja aku mengenang sedikit tentangnya, dan aku sudah menghabiskan waktu satu jam? Seperti halnya kisah tentang kita. Aku merasa baru kemarin kamu berjanji dan sedetik kemudian kamu mengingkari. Semudah itukah kau melanggar janjimu sendiri? Aku tak akan mengambil pusing, itu hanya masa lalu. Dan itu sudah empat tahun yang lalu. Sudah berlalu. Aku akan belajar mengikhlaskan. Mungkin cukup dengan satu senyuman saat bertemu dengannya. Senyuman yang baik. Mengawali hari baru dengan ikhlas dan tanpa terbayang-bayang olehnya.

"Tessa!" aku lagi-lagi tersentak. Sedetik kemudian aku langsung mengepak beberapa pakaian dan hal lain yang kuperlukan saat di bumi perkemahan nanti. Setelah selesai, aku turun kebawah. Menemui ibuku.

Rasanya tak sabar untuk berkemah. Belum lagi akan bertemu dengan sosok yang pernah mengisi relung hatiku empat tahun lalu. Aku harus menyiapkan senyumanku. Senyuman yang mungkin saja akan membuat hari-hari berikutnya tanpa canggung. Dan saling sapa? Mungkin? Entahlah. Aku tak akan berekspetasi terlalu tinggi. Terlalu takut. Takut terjatuh. Dan sakit.

"Riris!" aku berteriak memanggil nama sahabatku. Riris menoleh. Tersenyum. "Kau siap untuk tahun ini?" ucapnya bersemangat. Aku tertawa. Riris selalu bersemangat. Mataku menelususri lapangan yang sudah penuh dengan mobil. Mobil yang akan mengangkut kami semua menuju bumi perkemahan. Kemudian kulirik keatas. Sudah nampak awan menggumpal dengan warna hitam. Sepertinya akan turun hujan.

Gerimis kecil mulai mengenai puncak kepala kami. Awalnya kami biasa saja, tapi sedetik kemudian berubah menjadi hujan. Hujan deras. Kami semua berbondong-bondong menuju tempat peneduhan.

"Gak bisa! Untuk jelajah sudah panitia yang mengatur!" suara berat seseorang terdengar,  membuatku menoleh. Merasa kenal dengan pemilik suara. Ternyata dia.

Dia sudah berbeda dari empat tahun lalu. Lebih tinggi. Itu jelas. Tapi, dia sedikit lebih dewasa. Lebih memimpin. Jiwanya seperti kakaknya. Sama-sama pandai. Pandai berbicara.

Beberapa saat kemudian suara di sampingku menghilang. Kutolehkan wajahku menghadapnya. Ternyata sudah selesai berbicara. Dari samping wajahnya terlihat berbeda. Sedikit bulat. Tapi tetap manis.

Ia menoleh, menghadap ke arahku. Jantungku berdetak lebih cepat. Langsung kupalingkan wajahku menghadap kedepan. "Ris?" ucapnya.

Ah, ternyata ia memanggil Riris. Lagi pula, untuk apa ia memanggil namaku? Meminta maaf atas kejadian dulu? Itu tidak akan mungkin. Itu hanya masa lalu. Berharap sekali aku ini.

Riris menoleh, mengisyaratkan dengan mukanya yang seolah berkata apa. Setelah itu, mereka mengobrol didekatku. Ya Tuhan, mengapa mereka berbicara di dekatku? Aku tak akan bisa berbincang dengannya, apa Riris tidak tahu kalau aku belum akrab dengannya?

Aku hanya diam, mendengarkan, mengoprek handphone dan sebagainya yang bisa kulakukan. Aku badmood, lama sekali mereka berbicara, aku tak tahan ingin menyelanya dan masuk dalam obrolan mereka. Tapi, aku tak bisa. Itu akan membuat suasana canggung.

Lima belas menit berlalu, mereka sudah selesai berbincang. Aku bersyukur, setidaknya aku tidak berada di tengah-tengah mereka. Aku menoleh kearahnya, kembali memperhatikan wajahnya dari samping. Dua kata. Manis. Lagi.

Tiba-tiba, ia menoleh ke arahku kembali. Aku tersentak. Matanya tertuju melihatku, tajam. Aku membeku. Untuk pertama kalinya ia melihatku kembali setelah empat tahun yang lalu. Aku tersenyum. Menampakkan senyum manisku. Berharap ia membalas. Matanya masih menatapku. Lama. Aku bahkan masih mempertahankan senyumanku. Dia menatap lagi sekilas kearahku, lalu berpaling. Menatap hujan yang baru saja berhenti. Kemudian pergi. Hatiku mencelos. Senyumanku tak berguna. Masih sama seperti tahun lalu. Senyuman penghujung akhir tahun yang tak berguna. Selalu dan selalu. Mengapa dia tak membalas senyumanku? Begitu sulitkah? Kurasa tidak. Apa ia tak melihatku? Kurasa juga tidak. Tapi, mengapa ia tak membalas? Ah, semoga saja, Desember tahun depan ia mulai membalas senyumanku. Aku akan mencobanya.

Penulis memiliki nama pena Pipau. Entah kenapa ia menyukainya. Lahir di kota Lumbung Padi tanggal 19 Oktober 1999. Membaca adalah hidupnya. Kenalan, yuk? Melalui Ask.fm @fauzianamnsyrh. Instagram @Fauzianamnsyarh.  Ingin membaca cerita abal-abalnya? Bisa melalui wattpad @fauzianamnsyrh dan fauzianamnsyrh.wordpress.com untuk blog di wordpress. Flash fiction yang ditulis untuk kamu. Semoga mau membalas senyumanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rabu bersama Senja

Fuki Yona